,

Peluncuran Teeb TV

The Launching…

*Blog in English is on LinkedIn

Dua tahun yang lalu, 17 September 2014, kami memutuskan untuk melakukan pengenalan Teeb TV di Kuala Lumpur meskipun pada kenyataannya, pasar utama kami adalah Indonesia.

Ia merupakan satu saluran, cukup dini tapi kami ingin berada di pasaran dengan cepat agar kami bisa menguji model bisnis kami. Sebuah model pendapatan tradisional masih berlaku – iklan dan biaya berlangganan.

Kami bertemu hampir semua operator pay TV di Indonesia, ngeshare ide saluran kami, namun ditolak. Berbicara dengan perusahaan telekomunikasi adalah sangat sulit. Ketika itu, Over-the-top (OTT) platform hanya untuk tujuan pendidikan dan TV online streaming adalah sebuah mitos, kerna biaya yang amat mahal.10603706_322440261260466_281965820172805387_n

Hampir semua orang menolak gagasan memiliki saluran menampilkan film independen, film pendek dan musik. Berbicara dengan perusahaan telekomunikasi seperti berbicara dengan dinding bata.

Makanya, kami menjelajahi dan mulai menemukan tentang Netflix dan Hulu. Segera kami mendaftar untuk video-on-demand (VOD) model. Hal ini memungkinkan pemirsa untuk dengan mudah memilih apa yang mereka ingin menonton. Ide yang sangat bagus, tapi kita menyadari bahwa biayanya amat mahal dan satu tidak dapat menyangkal ketangkasan Teeb TV dalam merancang platform streaming.

Kami mengambil waktu untuk memahami teknologi streaming yang tersedia di pasar. Kami menguji dengan menjalankannya sebagai saluran streaming linear dan ternyata nggak cocok. Kami membuang banyak sumber tanpa tujuan pada mengatur program-program yang mungkin cocok untuk pemirsa kami.

Faktanya kami masih tidak mengerti secara khusus tentang pemirsa kami. Mereka adalah sekelompok yang tidak sabar. Ia harus segera tersedia, kapan saja.

Saat itu, gagasan Platform-as-a-service secara relatifnya tidak wujud sama sekali – non-eksistensi. Kami mendaftar dengan berbagai fasilitas uji coba gratis yang tersedia di pasar. Kami menciptakan beberapa akaun agar bisa menggunakan penyimpanan data 5GB yang gratis.

Kami terus mengeksplorasi pilihan kami di Jakarta, lebih satu tahun. Kami berbicara dengan beberapa penyedia layanan di Jakarta dan biaya masih lagi mahal. Sebuah startup kecil seperti kami tidak akan bertahan dengan jenis urutan besarnya kasar atau rough order magnitude (ROM) estimasi.

Ia bukan bisnis yang layak sama sekali. Iklan dan biaya berlangganan, jika ada, tidak akan mampu mempertahankan kita bahkan selama satu bulan.

Kami hampir menyerah, jujur.

Kemudian, kita bergeser target kami untuk mengumpulkan konten – film indie, film pendek, musik dan web series. Kami mulai bekerja dengan beberapa festival film di seluruh negeri dan luar negeri, sementara mempertahankan saluran online kami pada beberapa rekening penyimpanan 5GB gratis.

Dan ternyata ia berhasil. Tapi tidak untuk bagian monetisasi.